Maafkan Aku Blogger

Liputan6.com

Akhir-akhir ini pada bulan Juli 2017 media online diramai-kan dengan adanya wacana pemblokiran salah satu platform  media sosial yaitu aplikasi Telegram. Dapat tekanan dari manakah pemerintah sampai membuat wacana pemblokiran aplikasi tersebut ?. Kenapa hanya media sosial jenis telegram saja yang harus diblokir, kenapa platform lain-nya seperti Facebook, Twitter, dan Whatsapp juga tak ikut diblokir.

Kalau  pemerintah mau membuat wacana yang adil,  banyak pengguna sosial media yang sering share berita-berita radikal atau paham khawarij, dan kebanyakan mengopini masyarakat untuk makar, hal itu tidak hanya cuma terjadi di aplikasi Telegram saja, Di Facebook, Instagram, Twitter dll, juga ada kok. Kenapa harus Telegram saja, kok seperti itu model pemerintahan kita, seperti  kurang adil dalam masalah penegakan hukum'. 

Ya sudah lah bagi penulis sedikit kecewa karena juga sebagai pengguna aplikasi telegram.
Dengan adanya wacana pemblokiran aplikasi telegram banyak masyarakat yang kecewa. Dari kalangan pembaca, ada yang suka membaca artikel ilmu agama di channel aplikasi Telegram. Ada juga dari kalangan penjual online yang mereka mempromosikan barang dagangan-nya di telegram. Bagi penulis kecewa karena telegram adalah sebagai salah satu nara sumber --sumber kutipan dalam hal menulis di Blog pribadi.

Sudah hampir 8 tahun menulis di blog dengan dua kali mendapat ujian hidup eee...aa. Ketika blog penulis yang pembukuan ilmu debat dotcom mendapatakan ujian dari hilangnya file-file rujukan sebagai narasumber entah di hapus atau terhapus oleh orang yang tidak dikenal. Maka dari itu penulis pindah aliran konten dari yang tadinya debat Islam vs Kristen dengan ilmu dan sopan santun, maka penulis fokus pindah ke Ilmu kajian via Media Sosial isi konten-nya tidak terlalu berat dan tidak radikal .

Nah kali ini karena ada wacana pemblokiran telegram otomatis narasumber --sumber kutipan untuk menulis di blog akan hilang. Biasanya sebelum menulis di blogger penulis mencari opini sandaran via aplikasi telegram, hampir seperti sanduran he..he...

Penulis beropini bahwa yang menekan pemerintahan untuk memblokir telegram dari aliran Islam yang tidak suka dengan kelompok 'nyunah' mungkin tapi ya. Sudahlah karena aliran Islam bagian itu sudah banyak kekuasan-nya disektor pemerintahan sudah dimasuki dan dikuasai, jadi ketika membuat kebijakan ya yang menguntungkan kelompoknya –bukan rahasia lagi.

Memang dari lacakkan penulis di telegram isinya hampir di kuasai oleh channel Islam model Nyunah. Jadi, penulis beropini begitu. Islam Model Nyunah ini argumenya berlawanan sama paham aliran  model bagian lain yang berkembang di Nusantara --kebanyakan umumnya. Tetapi yang terpenting bagi penulis bisa Nge-Blog lagi, apakah penulis masih bisa Nge-Blog.

Adis Setiawan
Adis Setiawan Mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Islam An Nur Lampung. Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan IMM Bekasi Raya

Post a Comment for "Maafkan Aku Blogger"